Jalan yang benar (Matius 7: 12-23)

12) “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka . Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. 13) Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; 14) karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang gang mendapatinya.”

Hal Pengajaran yang sesat Matius 7: 15-23

15) “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnnya mereka adalah serigala yang buas. 16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik. 18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. 21) Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu dan mengadakan banyak mujizat demi nama Mu juga? 23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Uraian :

Jalan yang benar itu kita perumpakan seperti jalan yang sempit, jadi jalan yang sempit itu adalah hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang benar. Orang-orang benar yang bisa dapat masuk melalui jalan yang sempit itu. Sedangkan jalan yang menuju ke dalam kebinasaan adalah jalan yang lebar. Contoh ada sesuatu pemberian, ada yang besar dan ada yang kecil, sudah tentu banyak orang yang memilih pemberian yang besar, dalam firman ini dikatakan jalan yang besar itu banyak orang yang milih, tetapi menuju pada kebinasaan. Jalan yang benar itu adalah jalan yang sempit dan jalan yang lebar itu adalah jalan yang menuju pada kebinasaan. Dan banyak sekali orang yang memilih jalan yang lebar.

Orang yang percaya selalu memilih jalan yang sempit, tetapi orang yang tidak percaya pasti akan memilih jalan yang besar. Jalan yang sempit itu dalam gambaran iman kita tidak bisa membawa apa-apa jadi itu diperumpamakan jalan yang sempit itu hanya bisa kita lalui dengan membawa diri kita, kita tidak bisa membawa apa-apa hanya kepolosan kita saja yang bisa kita bawa. Manusia bisa bilang eee saya punya ini, punya itu, bisa ini itu, tapi jalan kebenaran itu jalan yang sempit kita tidak bisa bawa apa-apa. Artinya kalau kita berada di dalam Tuhan Yesus, kita tidak ada apa-apa, tidak ada yang bisa kita bawa, kecuali kepolosan kita, ketulusan hati kita.

14) karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Ketika kita menuju jalan sempit itu kita hanya bisa membawa diri kita, kita tidak bisa membawa apa-apa, diri kita itu adalah kepolosan kita, ketulusan, kebaikan kita yang ada pada diri kita itu yang bisa kita bawa agar bisa melewati jalan itu., tapi yang lain-lain tidak bisa bawa. Ke Sorga kita tidak bisa membawa apa-apa. Kita hanya bisa membawa kebenaran Allah yang ada pada diri kita.

Segala dosa yang ada lepaskanlah bertobatlah, segala keterikatan kita kepada sesuatu, lepas kanlah agar kita bisa melalui jalan yang sempit itu. Kalau jalan yang lebar kita bisa membawa apa saja, segala dosa, keterikatan kita, semua bisa kita bawa, karena jalan nya lebar dan besar yang menuju pada kebinasaan.

Hal pengajaran sesat

15) “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnnya mereka adalah serigala yang buas. Kita harus wapada pada pengajar-pengajar yang menyesatkan, akan datang banyak penyesat-penyesat yang akan membodohi kita, tetaplah berpegang pada firman Tuhan.

16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik. 18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

Pohon yang baik bisa ditanam dengan pohon yang tidak baik, bisa berdekatan, bisa juga satu kali tanam, akhirnya pohon yang baik terpengaruh oleh pohon yang tidak baik, jadinya tidak baik, tapi jika pohon yang baik ini tetap berusaha agar dia menjadi pohon yang tetap baik, maka pohon yang tidak baik ini akan mengikuti pohon yang baik, artinya di dalam hidup kita kalau kita dekat dengan yang baik maka kita akan selalu dapat yang baik. Kalau kita selalu dekat dengan yang tidak baik pasti kita akan dapat yang tidak baik. Yang paling utama itu adalah hasilnya, kalo pohon yang baik hasilnya pasti baik. Tuhan membenarkan segala sesuatu yang benar. Kalau kita mau meraih sesuatu kita harus berdoa, kalo kita di dalam Tuhan pasti akan mendapat yang baik, kalau kita keluar dari Tuhan pasti kita akan melalukan yang tidak baik. Kita harus mempertahankan kebaikan yang ada di dalam diri kita.Apa yang tidak baik, kita buang.

 


Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yakobus 2: 14-26)

14) Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16) dan seorang dari antara kamu berkata : “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17) Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

18) Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tuanjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatan ku” 19) Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. 20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? 21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, diatas mezbah? 22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. 23) Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” 24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia di benarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. 25) Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu d dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? 26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Uraian

Sangat sulit diantara orang percaya dapat meneliti 2 buah hal yaitu meneliti iman tapi juga perbuatan. Itu sering orang berusaha untuk dapat mencapai 2 hal ini, tapi sering juga terjadi kekurangan-kekurangan dalam setiap diri orang percaya. Pada Firman Tuhan dari Yakubus ini, berbicara untuk kita tetap mempertahankan perbuatan dengan iman itu supaya perbuatan dan iman tetap kuat di dalam diri kita. Kalau kita berbicara tentang iman, kalo iman itu kan kita sudah percaya, kita kan sudah percaya kepada Yesus itu telah menyelamatkan kita, kita percaya bahwa Dia penolong kita, karena kita sudah percaya kepada Dia, nah itu kita sudah percaya, dan benar, kita sudah menjadi orang percaya dan yakin itu kita sudah beriman. Dan kembali kepada perbuatan, kita juga sudah melakukan perbuatan, banyak yang sudah kita lakukan / kita sudah buat. Tetapi disini yang menjadi bagian inti utama adalah mungkin perlu sekali kita juga harus jaga agar ke 2 bagian ini menjadi utuh di dalam diri kita di dalam keadaan hidup kita. Iman dan perbuatan kita harus jaga agar iman dan perbuatan itu berimbang, tidak naik turun, tidak sedikit/banyak, tetapi dia seimbang sehingga ada keutuhan antara iman dan perbuatan. Di dalam diri orang percaya, ada yang memiliki iman tapi kurang dalam perbuatan, ada juga yang sudah melakukan banyak perbuatan kasih tapi kurang beriman. Ini menjadi persoalan yang besar yang dikatakan dalam Yakubus,

17) Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Kalau kita beriman tetapi tidak berbuat, akhirnya apa yang kita imani menjadi sia-sia. Nah setelah kita berbuatan tetapi tidak beriman akhirnya semua yang kita buatpun sia-sia. Ini yang menjadi persoalan bagi setiap orang yang diperhadapkan pada persoalan kehidupan. Iman dapat menguatkan seseorang untuk mau berbuat, dia berbuat pun dia harus beriman, karena dengan perbuatannya itu juga dapat menguatkan dia, menguatakan imannya. Nah disinilah kekuatan Allah berada pada setiap orang yang beriman dan berbuat. Kadang manusia sering terlena, bahwa dia sudah beriman tapi tidak berbuat, ada juga yang sudah berbuat tapi kurang beriman, ini yang membuat kita kurang melihat kuasa Allah. Ketika kita beriman dan berbuat pasti ada kekuatan. Contoh sederhana, kita berharap, memohon sesuatu, kita sudah mengimanin itu kita sudah berdoa, tapi kita kurang berbuat, kurang berlutut berdoa lebih sungguh lagi dengan doa, dengan diam berlutut mengangkat tangga kepada Tuhan, itu sudah termasuk perbuatan. Kita merasa kita sudah buat ini, buat itu tapi yang Tuhan inginkan adalah berbuat sesuatu untuk Tuhan, berlutut, berdoa dengan sungguh, itu yang Tuhan ingin kita perbuat, menyediakan waktu secara pribadi dengan Tuhan, berkomunikasi secara intens dengan Tuhan. Kita berbuat sesuatu untuk Tuhan bukan berarti kita angkat segala sesuatu yang kita punya, kita jual segala sesuatu yang ada untuk Tuhan, Tuhan tidak menginnginkan harta kita, Tuhan tidak menginginkan talenta kita, kemampuan kita, kepintaran kita, yang Tuhan inginkan kita menyediakan waktu pribadi kita untuk berdoa berlutut di hadapannya, sehingga ada kumunikasi yang indah, komunikasi secara pribadi antara kita dan Tuhan, dengan berlutut akan menguatkan doa kita. Dengan berlutut menunjukkan bahwa kita berbuat untuk menguatkan doa kita, menguatkan iman kita. Banyak orang berpikir bahwa dia sudah melakukan banyak hal berbuat banyak, tapi doa nya masih belum dijawab Tuhan, itu karena berbuatannya dan apa yang dibuatnya kurang terarah. Berdoa dan berlutut lah, maka Tuhan akan mengarahkan hikmatnya bagi kita.

Setiap orang memiliki iman, sesuatu yang dia percaya dan yakini, iman harus disertai dengan perbuatan, hal sederhana dari perbuatan itu adalah berdoa, berdoa adalah perbuatan, berdoa dan berlutut adalah perbuatan. Beriman kepada Yesus Kristus, berbuat dengan berkomunikasi dengan Tuhan Yesus melalui doa kita, mau ga kita berdoa, mau ga kita berlutut, dengan mau saja itu berarti kita sudah berbuat, yang akan menguatkan iman kita.


Manusia baru (Kolose 3:1-17)

  • Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama Kristus, carilah perkara yang diatas, dimana Kristus ada, duduk disebelah kanan Allah. 2) Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang di bumi, 3) Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. 4) Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. 5) Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6) semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka) 7) Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8) Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9) Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. 10) dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharuhi untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11) dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang orang Skit, budak atau semua dan di dalam segala sesuatu.

12) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 13) Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah jugalah demikian. 14) Dan di atas semuanya itu : kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15) Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. 16) Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya diantara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalah hatimu. 17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Uraian :

Di dalam kehidupan orang percaya hal utama adalah Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang di bumi, ayat berikut dikatakan, Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Kamu telah mati, arti mati disini adalah bahwa Yesus telah membawa segala keinginan-keinginan daging kita dengan kematian, yaitu pengampunan, sehingga di dalam orang percaya kalau dia memang benar-benar percaya dia mengganggap dirinya telah bersama-sama dengan Tuhan, ketika dia menghadapi situasi apapun dia tetap bertahan karena dia bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Orang yang percaya hal utama adalah dia harus memikirkan hal/perkara-perkara yang diatas, kita patut bersyukur karena kita yang di dalam Yesus, senantiasa berpikir tentang hal-hal diatas atau hal-hal tentang Kristus, tetapi kalau di luar Kristus, yang kita pikirkan banyak hal diluar Kristus, yang dapat membawa dia kepada kematian, karena yang dia pikirkan hal-hal di luar Kristus, hal-hal nya tidak seturut dengan kehendak Kristus.

Karena itu kita harus menjadi Manusia Baru, 5) Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, Jadi di sini ada beberapa buah/ beberapa sifat manusia yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu dan juga keserakahan yang merupakan atau sama dengan penyembahan-penyembahan berhala. Jadi artinya bahwa kalau kita masih hidup di dalam buah-buah ini berarti kita masih sama dengan orang-orang yang masih menyembah berhala. Kalau kita sudah ikut Yesus itu berarti kehidupan kita, kita sudah taruh di dalam Yesus, jadi apa yang Yesus kehendaki itulah yang kita lakukan, apa yang Yesus tidak kehendaki kita tidak boleh lakukan, Tapi masih banyak orang percaya tapi masih tetap melakukan hal-hal yang bukan merupakan perkara di atas/perkara tentang Kristus. Yang kurang Tuhan akan buat menjadi penuh, yang kurang baik Tuhan akan buat menjadi baik, kita pun ingin mengubah diri kita menjadi yang lebih baik, sehingga Tuhan mengingatkan kita agar kita jangan memikirkan hal-hal atau perkara-perkara di bumi, tapi pikirkanlah perkara-perkara di atas, seperti kebaikan. Perkara-perkara yang bukan perkara-perkara diatas seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala, kalau kita mengira kita telah terlepas dari pernyembahan berhala, tapi kalau kita masih hidup dalam hawa nafsu, keserakahan, kenajisan, itu berarti kita masih berada pada penyembahan berhala. Sebagai orang percaya kita harus tahu mana perbuatan yang benar mana perbuatan yang najis, najis itu bukan yang masuk yang najis tetapi apa yang keluar itu yang najis, karena yang keluar itu berasal dari hati, dari pikiran, dari perbuatan kita. ada juga yang masuk yang berbuah najis, yang bermula dari pikiran, pikiran serakah, nafsu/keinginan yang besar terhadap sesuatu,. Kalau kita hidup di dalam Tuhan, kita harus memikirkan hal-hal diatas/hal-hal kebaikan, kalau kita berbuat hal-hal yang baik, kita akan dituntun oleh Roh Allah. Tuhan bilang bahwa pergi lah ke ujung bumi dan beritakanlah injil, sebagai orang percaya kita harus memberitakan Injil kemana mana, ke ujung bumi, ujung bumi itu kemana saja? Dikeluarga kita itu juga ujung bumi, di dalam rumah juga ujung bumi, ke anak/istri/suami kita itu juga ujung bumi, ke teman-teman sekitar kita itu juga ujung bumi, dimana firman Tuhan harus diberitakan, kita beritakan dapat melalui kesaksian hidup kita, jika kita hidup benar dihadapan Tuhan, kita dapat menjadi saksi bagi orang-orang disekitar kita.

7) Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8) Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9) Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.

Kita harus menjaga diri kita dari hal-hal ini. Kalau laku perbuatan kita udah bersih, berpikir seperti hal-hal di atas, Tuhan pasti akan memberkati kita, tapi kalau kita masih marah, geram, fitnah, susah untuk kita memperoleh berkat Tuhan.

Menjadi Manusia Baru, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. 10) dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharuhi untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

 

 


Markus 10 : 17-31

Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah (Markus 10: 17-27) dan

Upah mengikut Yesus (Markus 10: 28-31)

Orang kaya sukar masuk Kerjaan Allah

17) Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 18) Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. 19) Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan janji dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” 20) Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 21) Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” 22) Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

23) Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya disekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 24) Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 25) Lebih mudah seekor unta melewatu lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerjaan Allah. 26) Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 27) Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

Upah mengikut Yesus

28) Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” 29) Jawab Yesus “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapaknya, anak-anaknya atau ladangnya, 30) orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. 31) Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Uraian :

Ada 2 perikop yang kita baca hari ini, dari bacaan ini kita lihat ada 2 macam orang yang mengikut Yesus yaitu orang kaya dan yang kedua adalah pengikut Yesus yaitu murid-murid. Jadi ada 2 macam kehidupan, ada orang kaya yang mau mengikut Yesus tapi dia tanya kepada Yesus apa yang harus dia buat supaya memperoleh hidup yang kekal. Kalau di dalam perikop “Upah mengikut Yesus” murid-murid bertanya bagaimana Yesus? Kami mengikut Yesus, dan meninggalkan segala sesuatu, dan apa yang akan kami dapat?

Jadi ceritanya ada orang kaya yang ingin mengikut Yesus dan dan juga orang yang tidak kaya tapi mengikut Yesus ada 2 macam, terutama murid-murid Yesus itu belum kaya, mereka tidak punya apa-apa, mereka orang-orang biasa, tetapi orang kaya itu dia sendiri datang kepada Yesus, dia bertanya apa yang harus ia lakukan apa yang harus dia perbuat supaya punya upah di surga atau bisa masuk kerajaan surga, Tuhan bilang kepada orang kaya itu, kamu jual seluruh hartamu dan bagi-bagikan kepada orang miskin, kalau kita lihat satu hal kenapa Yesus menyuruh orang kaya itu menjual seluruh harta nya dan membagikan kepada orang miskin, pasti ada penyebab mengapa Tuhan Yesus menyampaikan hal itu, bisa jadi karena orang kaya itu sering tidak memperhatikan orang-orang miskin, sehingga Yesus menyuruh hal ini kepada orang kaya itu. Yesus menyuruh menjual seluruh harta dan membagikan kepada orang miskin, ini yang menjadi masalah besar bagi orang kaya itu dan bagi siapa pun, ini adalah masalah yang rumit, yang sulit untuk diterima, kenapa sulit dilakukan? Karena dari awal orang kaya ini   tidak suka memberi, tidak memperhatikan orang miskin, tiba-tiba dia mau datang dan mengikut Yesus, inilah yang menjadi kendala bagi dirinya, inilah yang menjadi persoalan.

Diantara kehidupan manusia bukan karena segala sesuatu yang dimiliki, tetapi bagaimana segala sesuatu yang dimiliki itu ia dapat menggunakannya dengan baik. Kalau dia dapat menggunakan dengan baik harta yang dimillikinya berarti dia mengetahui sisi kehidupan mana yang harus dilakukan, sehingga saat dia dituntun untuk melakukan tugas nya itu, karena dia belum melakukan maka terasa berat. Siapa pun kita, saat kita belum melakukan tugas apa yang menjadi kewajiban kita, seberapa hebatnya kita, sebarapa kuat nya kita tapi kalau kita tidak pernah melakukan apa yang menjadi tugas yang dibebankan kepada kita, maka semua itu akan menjadi berat, akan menjadi persoalan bagi kita. Tapi kalau kita sudah melalukan hal-hal atau tugas yang diberikan kepada kita maka saat Tuhan tuntut kita, saat Tuhan tanya kita, kita akan mudah menjawabnya tidak akan menjadi beban atau persoalan bagi kita karena kita sudah melakukannya. Contoh kecil saja, kalau kita jarang bersih-bersih rumah, saat kita membersihkan akan menjadi berat, dan susah membersihkannya.

Saat kita mendiamkan atau melalaikan segala sesuatu akan menjadi berat. Tapi kalau kita lakukan setiap hari akan menjadi ringan. Ada tugas masing-masing pada diri kita contoh sebagai orang percaya, kita ditugaskan membaca Alkitab setiap hari, kalau kita tidak membaca berarti kita lalai, banyak contoh-contoh kecil lainnya. Di dalam firman ini, keterlambatan, kelalaian, ketidakberdulian orang kaya ini, melakukan hal kasih itu terhadap orang miskin sehingga tidak dapat mengikuti Yesus.

Dalam perikop “Upah mengikut Yesus” murid-murid ikut Yesus dengan baik, dengan pasrah/berserah, ketika orang kaya tadi bertanya, maka murid-murid pun bertanya kepada Yesus, Tuhan kami ini bagaimana? Kami telah meninggalkan segala sesuatu untuk ikut Engkau. Dan Tuhan menjawab:

29) Jawab Yesus “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapaknya, anak-anaknya atau ladangnya, 30) orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.

Kalau murid-murid meninggalkan segala sesuatu untuk ikut Yesus, tapi kalau orang kaya tadi tidak mau meninggalkan segala sesuatu nya.

Firman ini mengajarkan kita mengingatkan kita untuk selalu mengasihi, kalau kita kaya janganlah menjadi sombong, tetaplah mengasihi, kita harus jalankan tugas kita.


Dibenarkan oleh karena iman

(Galatia 3: 1-14)

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? 2) Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? 3) Adalah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? 4) Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sian! 5) Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan huku Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?

6) Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. 7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. 8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakah Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” 9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. 10) Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” 11) Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas,

”Orang yang benar akan hidup oleh iman.” 12) Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. 13) Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” 14) Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.

Uraian:

Apakah kita sudah beriman?? apa yang menggambarkan kalau kita beriman?? bagaimana bisa dikatakan kita sebagai orang beriman??

Ciri-ciri orang beriman : Berani dan pintar

Ia tidak pernah merasa takut akan apapun, dia tidak pernah kuatir, karena dia mempunyai landasan yang kuat pada apa yang dia imani, itulah yang menjadi kekuatannya. Persoalan apapun yang dia hadapi, dengan iman nya dia yakin bahwa Tuhan Yesus sanggup untuk menyelematkannya. Jika ia takut berarti dia tidak beriman.

Orang beriman selalu PD (Percaya Diri) karena dia yakin bahwa Tuhan ada disampingnya.

Orang beriman tidak takut, tidak kuatir, tidak ragu-ragu, dia selalu yakin dan percaya.

Orang beriman akan selalu melakukan hal-hal baik, yang dia inginkan hanyalah hal-hal kebaikan saja.

Orang beriman akan selalu setia, taat kepada Tuhan, dia akan selalu mengikuti apa yang Tuhan firmankan.

Orang beriman hidupnya selalu dengan doa, karena Doa bisa mengalahkan segala sesuatu

Orang beriman selalu berusaha menjadi sesuatu yang lebih baik.

Orang beriman tidak malas tapi selalu semangat menghadapi hari-hari dalam hidupnya karena dia percaya dan yakin Tuhan akan selalu menyertai dan memberkatinya.

Orang beriman juga pintar, dia mengetahui tentang segala hal karena dia selalu meminta hikmat dari Tuhan atas segala hal yang terjadi.

9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. “Orang yang benar akan hidup oleh iman”


Perempumaan tentang seorang penabur (Lukas 8: 4-15)

4) Ketika orang banyak berbondong-bondong dari kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: 5)”Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagaian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. 6) Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. 7) sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. 8) Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendalah ia mendengar!”
9) Murid-murid-Nya bertanya kepada Nya, apa maksud perumpamaan itu. 10) Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitahukan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. 11) Inilah arti perumpamaan itu :Benih itu ialah firman Allah. 12) Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
13) Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dlam masa pencobaan mereka murtad. 14) Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. 15) Yang jatuh ditanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”
Uraian :
Seorang penabur itu digambarkan sebagai orang seorang yang suka menanam, dia suka menanam, dia menabur benih di situ dia menabur, dia bisa tahu tentang tanah itu, bisa tahu juga tentang benih itu. Di dalam perumpamaan ini kita lihat bahwa Yesus menabur firman-Nya, Yesus sebenarnya sudah tahu tentang kita juga, yang punya perasaan, yang punya kemauan, Dia sudah tahu tentang kita, Dia menaburkan benih Nya. Dalam arti benih di sini adalah Firman Allah, Jadi Dia berbicara kepada kita, tentang segala sesuatu pengajaran, Dia berbicara dengan tanah, anggap saja kita ini tanah yang Dia menaburkan benihnya kepada kita, disitu diantara kita yang menerima penabur, yang menerima benih ini, ada hati kita seperti batu, hati kita ada juga yang seperti semak, ada juga hati yang seperti pinggir jalan, jadi ada beberapa macam kehidupan yang ada dalam diri kita, Tuhan mau menabur, Dia menabur, Dia berharap, Dia tahu tentang tanah itu, tapi Dia menabur, setelah Dia menabur, Dia berharap agar apa yang Dia taburkan itu jatuh pada tempat yang baik atau tanah yang baik, itu hal utama yang Tuhan harap. Dia harap benih itu jatuh di tanah yang baik dan tumbuh dengan baik dan menghasilkan yang baik. 5)”Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagaian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. 6) Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Di tanah yang berbatu, sulit sekali benih itu untuk tumbuh, di pinggir jalan melambangkan bahwa apa yang kita terima tidak sepenuhnya, batu itu melambangkan bahwa apa yang Dia taburkan kepada kita tumbuh tidak bisa benar karena kekerasan kita, kebandelan kita. 7) sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Benih itu tumbuh terjepit, kadang kita dihimpit oleh berbagai macam sesuatu kehidupan kita, dihimpit dengan bermacam-macam problema, dengan bermacam-macam persoalan sehingga pertumbuhan itu tidak ada.
8) Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendalah ia mendengar!”
Yang punya telingan untuk mendengar, dia seperti orang yang tanah nya subur, atau tanahnya baik. Tuhan mau taburkan benih firman Nya bagi kita, tapi hati kita masih ada di pinggir jalan, hati kita masih ada di batu-batu, hati kita masih ada di semak-semak, tapi Dia katakan tanah isi/tanah subur yang layak untuk benih itu tumbuh, benih itu akan tumbuh dengan baik, subur, dasyat bahkan berbuah seratus kali lipat. Kalau kita di dapati tempat dimana kita seperti semak duri, kita harus cepat-cepat keluar dari semak itu, kalau kita didapati di pinggir jalan,kita juga harus cepat-cepat keluar dari pinggir jalan itu dan kita mencari tanah yang bagus. Inilah yang menjadi gambaran bagi kita supaya kita bisa meraih sesuatu yang bagus, sehingga Dia katakan, benih yang jatuh di tanah subur, dia akan tumbuh dengan baik. Kita melihat ke 12 orang murid Yesus, mereka diperumpamakan sebagai tanah akhirnya disitu Tuhan menyiram benihnya jatuh, dan Dia sudah bisa tahu. Dan kita pun demikian, supaya kita jangan terjebak.
Di tanah yang subur, bukan berarti kita bebas dari segala hal, tanah yang baik itu berarti orang yang mau mendengar, orang yang mau tumbuh, orang yang mau belajar. Dalam kehidupan kita sehari-hari tentunya kita bergaul dengan beragam teman, ketika kita bergaul dengan teman yang berada di semak, kita jangan masuk di semak itu. Ketika kita bergaul dengan orang yang di batu, jangan kita masuk di batu itu, ketika kita bergaul dengan orang yang dipinggir jalan, jangan kita menjadi seperti orang itu, Tapi kita harus benar-benar menjaga diri kita, pribadi kita sehingga kita terlepas dari himpitan-himpitan persoalan, seperti gambaran-gambaran tadi, Kita harus belajar bagaiman kita harus berada ditanah yang subur, bukan di batu, atau disemak. Kita harus keluar seperti perumpamaan tadi, dari semak, dari pinggir jalan, dari batu, kita harus keluar dari sana, dan tetap berada di tanah yang subur.
Ketika kita melakukan kesalahan, cepatlah mohon ampun kepada Tuhan, dan saat kita diberi teguran kepada Tuhan, jangan marah dan emosi, tapi cepatlah bertobat dan mohon pengampunan Tuhan.
Jadikan diri kita berarti, yang layak benih itu tumbuh, dan berbuah lebat, seratus kali lipat.


Takutlah akan Allah (Pengkhotbah 5:1-19)

1 Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit. 2) karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan. 3) Kalau engkau bernazar kepada Allah, jangalah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 4) Lebih baik engakau tidak bernazar tetapi tidak menempatinya. 5) Janganlah mulutmu membawa engakau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu? 6) Karena sebagaimana mimpi banyak, demikianlah juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah.
Kesia-siaan kekayaan
7) Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat tinggi mengawasi mereka. 8) Suatu keuntungan bagi Negara dlaam keadaan dimikian ialah, kalau rajanya dihormati di daerah itu. 9) Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. 10)Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? 11) Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur. 12) Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri. 13) Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatu pun padanya untuk anaknya. 14) Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia kan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawa dalam tangannya. 15) Ini pun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikian pun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? 16) Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan. 17) Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selam hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya. 18) Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya-juga itu pun karunia Allah. 19) Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.
Uraian :
Takutlah akan Allah dan Kesia-siaan kekayaan, orang yang takut akan Allah berarti dia suka mendengar dan melakukannya dalam kehidupannya setiap hari. Kalau orang yang selalu bersyukur berarti dia selalu puas dengan segala sesuatu yang dia dapat, lalu bersyukur. Orang yang mau bersyukur berarti selalu merasa puas. Tapi ada sesuatu ujian yang besar, yaitu : 1) apakah yang kita dapatkan itu sedikit apa banyak? Karena kadang kemanusiaan kita, kita selalu ingin banyak. Jadi kadang kita dapat sedikit kita kurang bersyukur, yang banyak baru bersyukur, ini sama seperti Firman Allah pada ayat 3) Kalau engkau bernazar kepada Allah, jangalah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Orang yang bernazar itu adalah orang yang selalu bersyukur. Nazar adalah janji, atau ucapan syukur atas apa yang telah Allah buat. Banyak orang yang berkata, saya selalu bersyukur….okee memang benar, tapi sering terjadi pada kehidupan manusia itu adalah sering dia mendapat tapi sering dia bersungut, baru bersyukur. Dia sudah dapat, trus dia berpikir…sedikit,kalau dia di dorong untuk bersyukur, dia bersyukur. Tapi kadang kala dia pun terdorong untuk tidak bersyukur. Sehingga dalam hal ini kalau apa yang harus kita lakukan kepada Tuhan, itu kita harus buat. Kita harus lakukan apa yang terungkap/ungkapan hati kita kepada Allah. Jadi apa yang terungkap untuk kita berikan kepada Allah disitu terdorong untuk kita benar-benar selalu melakukan sesuatu kepada Allah. Contoh kalau kita dapat sedikit tapi kita dapat bersyukur. Ketika kita dapat berkat banyak, jangan kita tertawa, tetapi menangislah, itu artinya ketika orang itu benar-benar percaya kepada Allah, dia selalu bersyukur kepada Allah, sedikit atau banyak yang dia dapat selalu bersyukur, dan akhirnya dia terbiasa melakukan ucapan syukur atas apa yang dia dapat. Tapi kalau orang yang kurang bersyukur kepada Allah, dia dapat sedikit dia sedih, dapat banyak dia tertawa, itu sifat-sifat orang yang selalu bertentangan dengan maksud Allah, sehingga orang itu bisa menunda segala sesuatu dengan Allah.
Kalau kita mau bernazar tidak boleh ditunda, itu artinya ketika kita mau mengucap syukur dengan segala sesuatu kita tidak boleh tunda, kenapa kita sering kali menunda mengucap syukur/nazar karena kita anggap sedikit. Sedikit yang kita dapat membuat kita lambat mengucap syukur. Sedikit itu membuat kita malas mengucap syukur, sedikit itu membuat kita malu untuk bersyukur. Nah dalam hal ini kita diingatkan kembali untuk kita belajar setia, setia itu artinya belajar bersyukur, bersyukur dengan Allah. Kalau orang yang selalu bersyukur…bersyukur itu artinya dia dekat dengan Allah. Apa saja yang kita dapat maka kita harus selalu bersyukur sehingga kita tidak bisa jauh dari Tuhan. Ketika kita mau melakukan sesuatu kepada Allah, kita harus buat, jangan kita tunda. Ada kala orang mau buat sesuatu kepada Allah, selalu menunda…menunda, kenapa dia menunda, karena ada penyebab, penyebab itu apa? Penyebabnya karena masih menghitung, menghitung apa yang ia dapat dari Tuhan.
3) Kalau engkau bernazar kepada Allah, jangalah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Nazar itu ucapan syukur, nazar itu janji, janjimu sama Allah, nazar itu dapat berupa apa saja, bisa berupa uang, bisa berupa doa,kenapa pakai uang? Karena uang itu hanya merupakan suatu alat yang menceritakan diri kita bahwa kita setia kepada Allah. Sehingga di dalam Maleakhi 3:6-12 kita diajarkan untuk persembahan persepuluhan ini bukan karena Tuhan kurang duit, tapi dimana Allah menguji kita bagaimana kita setia atau tidak. Tuhan tidak butuh uang kita, Tuhan tidak menuntut hal itu, Tuhan tuntut kamu setia apa tidak. Ketika orang itu rajin bersyukur kepada Allah, dia itu selalu setia. Bersyukur itu berupa apa?? Bersyukur itu dapat berupa apa saja, pemberian kasih, karena kau punya, kau mengasihi, kau memberi, itupun ucapan syukur.
Kenapa sering dari kita doanya kurang di jawab, karena kita sering menunda janji kita dengan Tuhan, kalau kita menunda janji kita dengan Tuhan, berarti kita orang bodoh. Janji dengan Allah itu ada beberapa macam, janji itu banyak lo , kadang orang berprinsip duit saja, tapi ada kala orang tidak berjanji kepada Tuhan untuk melepaskan segala sesuatu, melepaskan kelemahan kita, keterlamban terhadap bertekun kepada Allah. Kalau kita setia, contoh setia, Tuhan ajar kita berdoa, ya kita berdoa, Tuhan ajar kita nyanyi, ya kita nyanyi, Tuhan mengajarkan kita untuk melakukan yang baik, kita lakukan yang baik, nah itu adalah hal-hal janji nazar kita kepada Tuhan.
6) Karena sebagaimana mimpi banyak, demikianlah juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah. Kadang orang banyak menghayal, sehingga banyak mimpi tapi hasilnya tidak ada, itu karena dia lalai bersyukur kepada Allah, dia lambat karena dia kurang bernazar kepada Allah. Nazar itu adalah janji dari lubuk hati kita dengan Tuhan. Segala sesuatu akan menjadi sia-sia kalau kita menunda janji kita dengan Tuhan.
9) Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia.
Contoh: kalau kita sering menonton TV, nanti hayalan kita hanya pada TV saja, kalau kita main game melulu, maka hayalan kita hanya pada games saja, belajarnya bisa hilang, sama juga dengan bapak-bapak atau ibu-ibu, kalau pikir uang saja, yang ada di otaknya hanya uang…uang saja, artinya kita harus belajar berpikir yang sehat, segala sesuatu yang sehat. Di dalam diri kita kalau kita banyak berpikir tentang apa, pasti yang datang yang selalu kita pikirkan, coba kalau kita berpikir tentang Yesus, pasti Yesus datang dalam mimpi kita, dengan wajah lemah lembu dengan penuh kasih.
Kalau kita mencitai uang kita tidak akan pernah puas dengan uang, kenapa kita tidak puas? Karena kita memang dalam keadaan mencitai uang. Bukan berarti kita tidak boleh mencintai uang, kita boleh mencintai uang tapi ingat, ada banyak hal yang perlu kita mencintai. Jangan kita hanya mencintai uang.


Siapa yang menyesatkan orang
(Matius 18: 6-14)

6) “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. 7) Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 8) Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kelal. 9) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.
10) Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu : Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. [11 Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang]”.
12) “Bagaiaman pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang Sembilan puluh sebilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13) Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yamg kesembilan puluh Sembilan ekor yang tidak sesat. 14) Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pu dari anak-anak ini hilang.”
Uraian :
6) “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.
Artiinya ketika orang itu dia meremehkan siapa pun dia, dia menggangap orang itu tidak berarti,ketika orang itu tidak berarti, orang itu disebut juga sebagai orang kecil. Dalam masa-masa Taurat itu, orang itu kalau dianggap rendah artinya orang itu belum bisa sesuatu, orang itu disebut anak kecil , tidak dihiraukan. Jadi dalam masa-masa kepercayaan itu belum masuk dalam jiwa/kehidupan manusia, itu manusia mengangap bahwa manusia itu rendah, ketika dia menganggap manusia itu tidak berarti, tidak punya apa-apa.
Tuhan memakai suatu perumpamaan tentang bagimana manusia itu membedakan satu sama lain. Kalau orang membedakan manusia itu lebih baik dia diikat, misalnya saya menyesatkan salah satu dari orang percaya itu lebih baik saya diikat dengan batu kilangan dan saya dibuang di dalam laut, itu artinya bahwa ketika orang itu menyesatkan siapapun, lebih baik dia diikat dan di buang didalam laut. Sehingga dalam firman dikatakan 7) Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Memang benar ada penyesatan tapi yang membuat penyesatan itu adalah orang yang celaka, jadi orang yang membuat penyesatan itu adalah orang yang belum kenal tentang kebenaran Allah. Celakalah dia karena dia melakukan sesuatu di luar dari , kebenaran Allah. Kita dituntut agar kita jangan melakukan sesuatu yang mencelakan orang lain. Kita dituntut untuk belajar kebenaran Allah, jangan coba-coba kita menyesatkan orang siapapun dia, kita pun harus berhati-hati agar kitapun jangan tersesat. Kita dibimbing oleh firman Allah, kita dipimpin Allah supaya kita melepaskan segala sesuatu perbuatan-perbuatan yang mencelakakan orang lain. Kita mengoreksi diri kita agar hal-hal itu jangan ada dalam diri kita. Dalam ayat 8 dikatakan Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Jadi misalnya kalau tangan kita tidak bersih/kotor, lebih baik tangan kita di potong saja, agar tubuh yang lain bisa masuk surga. Artinya bahwa kita jangan biarkan tangan kita melakukan sesuatu yang tidak baik. Begitu pula kaki kita. Kalau kita di dalam Tuhan, kalau perut sakit itu berarti kurang jaga makan, kalau tangan sakit, berarti tangan ada salah, kalau kaki sakit itu berarti kaki salah, kalau kepala sakit, berarti terlalu banyak mikir, itu berarti bahwa kita berada di dalam Tuhan, kita dituntun oleh Firman supaya kita menjaga diri kita supaya kita jangan terjebak oleh sesuatu yang tidak berkenan dihadapan Tuhan, Kita harus jaga kaki kita agar kaki kita tidak melangkah ke tempat yang tidak baik, daripada kita membiarkan kaki kita melangkah ke tempat yang tidak baik tapi seluruh tubuh kita masuk ke neraka. Firman ini berarti bahwa bagian dari kehidupan kita,kita tidak bisa membiarkan apapun dari diri kita terisi sesuatu yang tidak baik dan kita mengambil sesuatu yang tidak baik atau kita melakukan sesuatu yang tidak baik, kita diperintahkan untuk menjaga tubuh kita seutuhnya. Dan jika matamu menyesatkan, buang lah itu….artinya kalo mata kita berdosa, cukil saja, tapi siapa yang berani melakukan hal itu? Siapa yang berani mencukil matanya?. Lebih baik kita cungkil mata kita atau lebih baik melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dari pandangan mata kita?? Yang lebih baik itu kita melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dari pandangan kita, supaya mata kita jangan kena cungkil, supaya kita jangan dihukum.
Agar tubuh kita jangan dicampakkan ke dalam api, kita harus menjaga tubuh kita, menjaga mata kita dari pandangan yang tidak baik. Kita harus selalu jaga keutuhan diri kita, supaya dengan keutuhan diri kita diterima dihadapan Tuhan dengan utuh.
10) Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu : Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. Orang yang kita anggap rendah, orang yang kita anggap tidak berarti kita tidak tahu bahwa dia itu punya Allah, kita tidak tahu bahwa dia itu punya Tuhan, nah ketika kita mengganggap dia rendah dan tidak berarti kita tidak memperdulikan dia, kita tidak tahu bahwa dia punya Tuhan yang sudah menghukum kita sehingga kita diajar agar jangan menganggap siapapun rendah. Ketika orang mau masuk ke dalam kerajaan Surga dia harus melepaskan sesuatu yang bertentangan dengan maksud/kehendak Tuhan, Surga itu tidak mengisi tangan yang kotor, surga tidak bisa mengisi bibir mulut yang kotor, kaki, tangan yang kotor, kalau misalnya didalam diri kita mengalami hal-hal seperti itu maka kita bisa dihukum. [11 Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang]”. Yang hilang itu artinya yang kita anggap tidak berarti. Kalau kita mau dapat yang baik, di surga itu kan hanya ada kebaikan, ketika seseorang berbuat baik, maka dia akan memperoleh sesuatu yang baik. Contohnya: kita bisa main gitar, kita mengiringin persekutuan dengan bermain gitar, dan ketika kita mati, kita tidak dapat membawa ini gitar ke surga, karena jalan di surga itu sempit. Hanya kita bisa membawa diri kita, keutuhan diri kita , kepolosan kita.
12) “Bagaiaman pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang Sembilan puluh sebilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?. Ini artinya bahwa Tuhan tidak mau kita itu ilang dari Dia, Tuhan tidak mau orang percaya hilang dari Dia. Kita juga harus memberikan suatu bimbingan kepada keluarga kita, kepada anak kita, kepada istri/suami kita, supaya kita jangan hilang dari hadapan Tuhan, salah satu jangan ada yang hilang. Kalau kita sudah terlancur salah mendidik anak dari dia kecil akan sangat sulit merubahnya kalau dia sudah besar nanti. Contoh saat anak kita masih kecil-kecil, masih kita bisa bimbing masih kita bisa ajar, tapi kalau dia sudah besar, kita sudah tidak bisa lagi, kalao kita salah bimbing dan jika kita tidak bisa bimbing, besok-besok jangan kita menyesal. Kalau kita dalam satu keluarga, kalau salah satu tidak masuk dalam kerajaan surga, kira-kira sakit ga?? Sedih ga? Masih ada kesempatan kita perlu kita harus mencari dia, membimbing dia, mengajar dia seperti seorang gembala, seratus ekor dia bawa domba, tapi kalau hilang satu, dia kasi tinggal yang 99 domba dan si Gembala akan mencari yang seekor yang hilang. Ini artinya bahwa kita harus menjaga sesuatu keutuhan kehidupan kita agar kita jangan pinjang. Kadang orang mengejar kehidupan, kejar…kejar, tapi dia tidak mengejar kehidupan yang lain seperti keluarga nya dan bisa saja keluarganya tersesat di hari esok, jangan sampai menyesal. Anak –anak kita harus kita dekatnya dengan Tuhan. Yang menjadi berharga dan bernilai, yang dilihat dari kebaikan Allah itu adalah, ajaran kebenaran itu. Kalau kita ajar anak-anak kita hal yang baik, dia akan memperoleh hal yang baik, setelah dia memperoleh yang baik, maka dia mempunyai nilai yang baik.
Jagalah kehidupan kita itu agar kehidupan kita jangan cacat. Catat itu artinya jangan sampai salah satu dari diri kita itu merusak hidup kita/jiwa kita.
Kita harus banyak berdoa, kita harus banyak mengoreksi diri kita, kita harus banyak memohon ampun, segala noda dan dosa kita itu yang menjadi penghalang dalam hubungan kita dengan Tuhan, untuk itu kita harus mempertahankan kebaikan itu.
14) Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pu dari anak-anak ini hilang.”
Tuhan menguji kesetian kita, sampai akhir mahkota kita dapat dari Tuhan Yesus. Kerjakanlah keselamatanmu.


Dunia membenci Yesus dan murid-murid-Nya
(Yohanes 15 : 17-27)

17) Inilah perintah-Ku kepadamu: “Kasihilah seorang akan yang lain.”
18) “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. 19) Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. 20) Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. 21) Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. 22) Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka!. 23) Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. 24) Sekiranya AKu tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. 25) Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan. 26) Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. 27) Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”
Uraian:

Ayat 17, Kasihilah seorang akan yang lain, mengingatkan kita agar kita harus mengasihi seorang akan yang lain, jadi saling mengasihi itu banyak hal yang harus kita lakukan, mengasihi dengan segala kasih yang Tuhan berikan kepada kita, mengasihi itu ada juga dengan tatacara, tata krama, ada juga dengan pemberian, ada juga dengan kebersamaan, Jadi kasih itu banyak, banyak yang perlu kita lakukan. Terkadang kita hanya bisa melakukan kasih hanya beberapa tetapi kita katakan bahwa kita sudah menjalankan kasih, Yang perlu ditekankan disini adalah Kasih itu banyak, ketika kita sudah menjalankan beberapa kasih, tapi mungkin ada kasih kasih lain yang belum kita jalankan, berarti belum ada kepenuhan didalam kasih itu, sehingga dalam Firman Allah dikatakan bahwa Tuhan itu penuh kasih. Penuh Kasih itu berarti penggenapan di dalam kasih itu, Tuhan menggenapi segala kasih itu kepada kita sebagai orang yang percaya. Kadang kita manusia kita bisa mengira, kita bisa mengukur, ooohh saya sudah mengasihi dia dengan jalan begitu,..oooo saya sudah mengasihi dia dengan jalan begini, tetapi apakah didalam kita menyatakan ini kepada siapa, kepada manusia, kepada dunia, kepada siapapun, tetapi apakah kita sudah mengoreksi bahwa ada kasih lain yang belum kita berikan? Belum memberikan pada apa yang diperlukan sehingga kasih kita belum genap. Contoh: kadang kita memberi kasih itu kepada anak kita, tapi anak itu masih butuh, berarti kasih yang kita berikan itu belum penuh, sehingga anak itu masih butuh kasih, dan sebagai anak dia masih tetap membutuhkan kasih itu. Di dalam diri kita pun kita harus benar-benar menggenapi kasih itu, kasih apa yang kamu mau, genapilah kasih itu. Sama dengan Tuhan, Tuhanpun tetap mengasihi kita, Dia menggenapi kasih itu, jadi kasih itu banyak, banyak kasih, kasih itu bisa dari tatapan, kasih itu bisa dari wajah, dari tata krama, kasih itu bisa juga berupa pemberian, bisa berupa perhatian, kasih itu banyak macamnya. Banyak sekali macam yang kasih yang harus dilakukan oleh orang percaya karena disini kita dituntut kita menjalani kasih. Di dalam kasih itu benar-benar dituntut kasih yang tulus yaitu rela…rela memberi apa yang dibutuhkan. Banyak yang perlu kita pelajari sehingga kasih itu tidak terbatas, kasih itu tidak putus-putusnya, kasih itu tetap berjalan dan tetap nyambung. Di dalam firman ini kita diajar untuk kita memenuhi kasih itu. Okee hari ini kita mengasihi suami/istri kita dengan senyum, tapi bisa besok mungkin istri/suami kita membutuhkan kasih itu dengan apa…bisa pemberian, bisa waktu dll, itu baru kasih terhadap suami/istri kita belum terhadap orang-orang yang selalu bersama kita yang memerlukan kasih, belum lagi saat kita diperhadapkan dengan orang lain yang sangat membutuhkan kasih sehingga di dalam firman ini kita dituntut untuk kita menjalankan kasih. Kasih itu memang penting sekali, kasih itu tidak boleh terlepas dari kita, karena kita harus mengasihi. Di dalam hal ini kadang kita manusia mengukur kasih kita kepada orang lain, kasih kita kepada sesama, kasih kita kepada siapa pun dia, mereka memerlukan kasih, ada kasih 1, kasih 2, dan seterusnya, tidak terhingga, sehingga kalau kita merenungkan firman ini , kasih itu banyak yang harus kita lakukan. Jadi jangan kita resah, jangan kita capek, jangan kita bosan, untuk kita menjalankan kasih itu, kita memberi kasih itu. Kita mempertahankan nilai kasih itu kepada Tuhan, kasih yang terbaik kepada Tuhan itu adalah KESETIAAN. Kita setia, kita taat dalam mengasihi Tuhan, kita hadir dalam kasih Tuhan. Terkadang kita manusia berpikir ooo saya sudah mengasihi, apakah kasih yang kita berikan itu sudah penuh atau tidak? Sudah genap atau tidak? Kasih itu tidak putus-putusnya kasih itu tidak terhingga, terus berjalan, terus kita diperhadapkan dengan kasih, ketika kita diperhadapkan dengan kasih yang harus kita lakukan, Kasih bukan sesuatu yang cukup bagi orang, yang cukup bagi Tuhan, dan yang cukup bagi kita, kitapun butuh kasih itu, kasih yang banyak, orang lainpun sangat membutuhkan kasih yang banyak, sehingga saat kita diperhadapkan dengan orang yang membutuhkan kasih, kita bisa mengasihi dia, harus ada penggenapan, penggenapan apa? Penggenapan harapan dia, harapan apa? Harapan supaya digenapi, Kasih tidak pernah putus. Kita dituntut mengasihi. Dalam kebersaan kita ada kasih yang penuh, mungkin ada sesuatu masalah/problema yang mengganjal kita, tapi tetap kita menghilangkan persoalan itu sehingga kita bisa dapat satu dalam suatu kelompok, satu dalam persekutuan, karena kita datang dalam kasih kepada Allah.
Kita harus belajar merenungkan kasih mula-mula kita kepada Tuhan, dan kita harus merenungkan berapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, tidak putus-putusnya kasih Allah.
Dalam ayatNya yang ke 18 dikatakan “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Karena kasih, dunia membenci Tuhan, karena Tuhan mengasihi kita, yang percaya, karena Kasih, Dunia membenci kepada kita yang percaya kepada Tuhan, dunia juga membenci Tuhan karena Tuhan ada dalam kehidupan kita. Di dalam hal ini artinya bahwa kita harus benar-benar mengasihi Tuhan, ketika kita mengasih Tuhan, disitu Tuhan akan mengasihi kita. Dunia membenci Aku, maka dunia akan membenci kamu, kenapa? Karena kamu pengikut Aku. Dunia akan membenci Tuhan, karena Tuhan punya pengikut, pengikut nya siapa? Yaaa adalah kita-kita yang percaya. Kasih itu sangat-sangat besar, kasih itu penuh dengan perasaan, penuh dengan nurani, kasih itu dengan nurani. Kasih yang sempurna akan ada kepenuhan, kasih yang sempurna akan bertahan.
19) Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu
Dulu kita dari dunia, tapi setalah kita di dalam Tuhan, kita bukan lagi dari dunia. Dulu kita dari dunia, tapi setelah Tuhan mengambil kita dari dunia, kita bukan lagi dari dunia. Semakin kita akrab dengan Tuhan, dunia akan semakin membenci kita. Kita tidak perlu takut lagi, kita tidak perlu kuatir karena Tuhan telah mengambil kita dari dunia, kita sudah terlepas dari dunia.
20) Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. 21) Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. 22) Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka!. 23) Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku.
Kita akan diperhadap dengan segala persoalan, tapi ingat, seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya, ingatlah bahwa Tuhan telah mengalami segala sesuatunya, tetaplah menjadi kuat, Ketika orang membenci kita, dia juga membenci Tuhan, ketika orang membenci Tuhan, dia juga membenci kita.
26) Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. 27) Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”
Kita diajarkan tentang Kasih, kita dituntut melakukan kasih itu, dan kita bersaksi melalui Kasih.


Doa dalam kesesakan (Mazmur 69 :1-37)

Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Dari Daud
2) Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke leherku! 3) Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpun; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku. 4) Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku. 5) Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas. 6) Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu. 7) Janganlah mendapat malu oleh karena aku orang-orang yang menantikan Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam! Janganlah kena noda oleh karena aku orang-orang yang mencari Engkau, ya Allah Israel! 8) Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku. 9) Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; 10) sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku. 11) Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itu pun menjadi cela bagiku; 12) aku membuat kain kabung menjadi pakaianku, aku menjadi sindiran bagi mereka. 13) Aku menjadi buah bibir orang-orang yang duduk di pintu gerbang, dengan kecapi peminum-peminum menyanyikan tentang aku. 14) Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah, demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia! 15) Lempaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan dari air yang dalam! 16) Janganlah gelombang air menghanyutkan aku, atau tubir menelan aku, atau sumur menutup mulutnya di atasku. 17) Jawablah aku, ya Tuhan, sebab kasih setia-Mu baik, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar! 18) Janganlah sembunyikan wajah-Mu kepada hamba-Mu, sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku! 19) Datanglah kepadaku, tebuslah aku, bebaskanlah aku oleh karena musuh-musuhku. 20) Engkau mengenal celaku, Maluku dan nodaku; semua lawanku ada dihadapan-Mu. 21) Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan penghibur-penghibur, tetapi tidak kudapati. 22) Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam. 23) Biarlah jamuan yang di depan mereka menjadi jerat, dan selamatan mereka menjadi perangkap. 24) Biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat; buatlah pinggang mereka goyah senantiasa!. 25) Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas mereka, dan biarlah murka-Mu yang menyala-nyala menimpa mereka. 26) Biarlah perkemahan mereka menjadi sunyi, dan biarlah kemah-kemah mereka tidak ada penghuninya. 27) Sebab mereka mengejar orang yang Kaupukul, mereka menambah kesakitan orang-orang yang Kautikam. 28) Tambahkanlah salah kepada salah mereka, dan janganlah sampai Engkau membenarkan mereka! 29) Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar! 30) Tetapi aku inii tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Allah, kiranya melindungi aku! 31) Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; 32) pada pemandangan Allah itu lebuh baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah. 33) Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! 34) Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan. 35) Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya. 36) Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya; 37) anak cucu hamba-hamba-Nya akan mewarisinya, dan orang-orang yang mencintai nama-Nya akan diam di situ.
Uraian :
Doa dalam kesesakan ini artinya pengaduan, pengaduan Mazmur kepada Allah karena Raja Daud bermazmur kepada Allah dengan pengaduan tentang segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan atau dalam kehidupan pemazmur. Kalau di sini kita lihat bahwa dalam kesesakan seorang hamba seorang raja dia selalu menaruh segala sesuatu itu kepada Allah, dia ngadu kepada Allah, biasanya kalau orang mengadu itu kepada siapa pun, misalnya saya mengadu atau berkeluh kesah kepada teman/sahabat, itu artinya ada hubungan karena sudah bersahabat dekat, di dalam pengaduan pemazmur ini, dia mengadu kepada Allah, di dalam cerita firman ini banyak sekali mengadu segala sesuatu itu kepada Allah, Jadi dia tidak mengandalkan kekuatan, dia tidak mengandalkan suatu keinginan/kemauan dengan jerih payahnya atau dengan kekuatannya atau dengan pikirannya tetapi dia mengadu kepada Allah. Di Dalam hal ini, orang yang mengadu kepada siapa pun, karena dia tahu ada hubungan yang erat. Sehingga raja Daud, dia mengadu kepada Allah, karena dia berhubungan erat dengan Allah. Itu yang paling penting. Raja Daud, dia tidak segan-segan menceritakan sesuatu kepada Allah agar Allah melihat segala sesuatu yang diperhadapkan dirinya dengan keadaan atau dengan manusia, atau dengan musuh, raja Daud dia cerita semua. Dia mengadu kepada Allah agar Allah itu bertindak, nah hal-hal ini yang perlu kita belajar sehingga kadang itu orang tidak bisa meninggkat dalam bidang rohani karena dia anggap ini suatu cerita doang, cerita raja Daud yang mengeluh kepada Allah, banyak pembaca, banyak perenung, dia kadang ambil firman ini hanya suatu cerita yang ada hubungan Daud dengan Allah. Tetapi yang perlu kita ambil hikmat nya adalah suatu sikap orang yang benar-benar berhubungan dengan Allah yang punya sikap menceritakan kepada Allah agar Allah bertindak. Kalau dilihat daripada kepribadian orang-orang yang benar-benar beriman dan percaya itu, dia ceritakan kepada Allah, seperti di ayat 10) sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku. Cinta akan rumah-Mu, ini berarti keakrabannya dia dengan Allah, cintanya dia kepada Allah, seakan-akan menghanguskan dirinya, karena dia dilawan oleh musuhnya, karena dia dilawan oleh orang fasik, dia dikejar oleh orang fasik, sehingga dia bilang saya terlalu cinta Rumah-Mu sampai-sampai aku dikejar. Dalam membaca firman kita perlu mengambil buah kebenaran yang dapat dipakai dalam diri kita, jangan sekedar menbaca saja. Kadang kita berbicara tentang nubuatan, penglihatan, kadang ada orang yang binggung, ada yang tidak percaya, karena hubungan mereka dengan Allah tidak erat. 12) aku membuat kain kabung menjadi pakaianku, aku menjadi sindiran bagi mereka, kadang orang mau bercerita tentang sesuatu yang diperhadapkan sepertinya tidak bisa mengadu, tapi dia beralih ke hal-hal lain, ke tempat-tempat lain, beralih kepada sesuatu agar tidak menjadi kepedihan dalam dirinya, Tetapi raja Daud, karena kecintaannya kepada Allah, dia tetap saja berdoa dan berseru, tetap saja mengadu kepada Allah, walaupun dia dicerca dan di cela. 20) Engkau mengenal celaku, Maluku dan nodaku; semua lawanku ada dihadapan-Mu. Raja Daud terbuka dengan Tuhan, dengan semua hal-hal. Dalam bersahabat saja kita, kita bercerita segala sesuatu tentang diri kita, karena sahabat kita lah yang bisa membantu kita didalam memahami segala sesuatu, nah Raja Daud itu dia mengambil Allah sebagai sahabat, sebagai Allah sebagai Tuhan di dalam dirinya sehingga dia cerita segala sesuatunya. Apakah kita sanggup untuk bercerita dan menggungkapkan segala sesuatu kepada Allah?? Ketika kita tidak akrab kepada Allah kita tidak bisa menceritakan. Tapi ketika kita akrab dengan Allah maka kita akan menceritakan segala sesuatu sehingga dalam firman Allah ini kita ambil suatu ciri dari Raja Daud, bahwa dia adalah orang yang setia dan akrab kepada Allah sehingga dia bisa mencurahkan segala sesuatu bahkan di dalam pencurahan itu ada perintah kepada Allah untuk Allah menjadi musuh atau lawan bagi musuh-musuhnya dia. Kadang kita tidak bisa kuat di dalam Allah, karena kita tidak tahu arti daripada Firman Allah, sehingga langka sekali orang bisa seperti Raja Daud, yang bisa menentang, yang bisa meminta Allah untuk menghukum lawan-lawannya. Banyak orang yang tidak bisa seperti itu kenapa?? Karena dia tidak akrab dengan Allah. Ini perlu kita ambil kesimpulan dari Firman Allah ini untuk menjadi kekuatan dan menjadi sesuatu yang mulia dalam diri kita. Kalau orang yang dekat dengan Tuhan, kadang dia bisa bertahta saja, karena ketika dia bernubuat Tuhan sudah bertindak, marilah kita mulai akrab dengan Allah, ketika kita akrab dengan Tuhan, kita ngomong apa, kita mau minta apa saja, bisa karena kita sudah akrab dengan Tuhan, kita minta untuk kita punya kekuatan pasti kita akan dapat. Terkadang kita tidak bisa menjangkau sesuatu yang lebih baik, karena kita kurang akrab dengan Allah, tetap kalau kita akrab kita akan mengadu kepada Allah. Belajar dekat dengan Allah, setelah kita dengan dengan Tuhan, kita bisa mengadu kepada Tuhan dengan segala sesuatu yang menentang kita. Tapi kalau kita tidak dekat, belum bisa kita mengadu. Kita belajar untuk kita menjadi kuat, bukan hanya sekedar, tapi untuk meraih, buat apa kita datang dalam persekutuan, buat apa kita puji-pujian tapi kita tidak belajar untuk lebih baik, benar-benar belajar dengan tekun, setia dengan Tuhan,selalu berbicara dengan Tuhan agar kita lebih akrab. Kalau kita berkomunikasi terus dengan Allah, kita akan menjadi akrab. Kalau kita akrab dengan teman-teman dalam persekutuan, hal buruk bisa kita sharing, bisa kita saling menengur, saling mengingatkan, maka hal buruk itu bisa hilang dan kebaikan itu bisa berjalan dan akhirnya kita tambah akrab. Sama juga dengan Allah dengan kita. Apakah saat kita baca ini firman, kita katakan, wuiihh hebatnya Raja Daud, sehingga dia bisa perintah untuk Allah hukum ini musuhnya, apa kita harus katakan begitu? Tidak, Tetapi kita harus mengambil sikap seperti Raja Daud, untuk bisa katakan kepada Allah bahwa, Allah bantu saya, saya diperhadapkan oleh banyak persoalan, karena itu yang paling utama. Kita ambil sikap untuk kita lebih erat dengan Allah, sehingga apa yang kita butuh dari Allah, Allah bisa menolong kita. Keakraban Raja Daud dengan Allah, sehingga raja Daud menyuruh Allah untuk menghardik orang-orang fasik atau musuh-musuh dia. Kita belajar akrab dengan Allah. Kedisiplinan kita dengan Allah membuat kita akrab dengan Allah seperti raja Daud. Kenapa Salamo diberkati sampai kekayaannya itu berlimpah-limpah karena bapaknya setia, Daud itu setia. Bagaimana kita bisa mencapai kekuatan seperti Raja Daud kalau hal-hal kecil saja kita tidak disiplin. Kita harus disiplin dengan Tuhan. Mari ambil langkah-langkah untuk dekat dengan Allah, misalnya sikap doa, disiplin dalam berdoa. Kalau dari hal kecil kita disiplin pasti kita akan disiplin pada hal besar. Hari akan berlalu, bulan akan berlalu, tahun akan berlalu, sesuatu bisa akan terjadi berubahan, tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu dari diri kita asalkan kita setia.
34) Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan. 35) Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya. 36) Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya.
Banyak orang yang susah karena menyia-nyiakan ajaran Allah, kita diberkati karena kita akrab dengan Allah, apalagi kalau akrabnya di tambah, akrab nya sedikit, berkatnya sedikit, akrabnya banyak berkatnya banyak, akrabnya sederhana, berkatnya sederhana. Kita ikut Tuhan tidak akan pernah sia-sia. 36) Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya; 37) anak cucu hamba-hamba-Nya akan mewarisinya, dan orang-orang yang mencintai nama-Nya akan diam di situ.
Berdoa, minta, agar berkelimpahan kasih Allah kepada kita, bukan berkelimpahan uang, tapi berkelimpahan kasih Allah. Kalau berkelimpahan kasih Allah, uang, kesehatan, segala ada di dalamnya.