JODOHKU……..

Ibu-ibu bapak-bapak
siapa yang punya anak bilang aku
aku yang tengah malu
sama teman-temanku
karna cuma diriku yang tak laku-laku
Pengumuman-pengumuman
siapa yang mau bantu
tolong aku kasihani aku
tolong carikan diriku kekasih hatiku
siapa yang mau…………

Sepenggal reffrain lagu Mencari Jodoh dari Band Wali mungkin bisa menggambarkan kegalauan seorang Jomblo. Yang dicap tidak lakulah, belum lagi ditanya pasangan seperti apa yang dicari. Kenapa umur sudah cukup dan mapan pula pekerjaan masih belum juga menikah… Dari orang tua, teman semua menanyakan. Jadi risih rasanya. Itulah yang dirasakan penulis ketika termasuk telat nikah.
Perkenalkan saya mengenalkan diri. Orang tua saya memberi nama saya Sundoyo, dari namanya pasti anda tahu dari mana saya berasal, ya benar dari Jowo tepatnya Dusun Margorejo Desa Tegalombo Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati, Jowo Tengah umur sekarang 40 an tahun, istriku bernama Ni Luh Ketut Sri Agustini. Dari hubungan Jowo Bali ini telah lahir dua pasang anak kami. Yang sulung anak laki-laki bernama Alment Karunia Sundoyo umur 9 tahun dan bersekolah klas 4 di Regent School Denpasar dan Anak yang kedua perempuan kami beri nama Anthanbita Karunia Sundoyo berusia 4,5 tahun sekarang TK kecil di sekolah yang sama dengan kakaknya.
Bercerita masalah jodoh saya mau bersaksi tentang perjalanan perjodohan saya dengan istriku tercinta. Sama dengan lelaki lain yang normal tentu tertarik dengan cewek yang cantik, mapan dan baik hati. Tapi perjalanan kehidupan kadang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sebagai orang Jowo keinginan saya punya pendamping hidup yang sama dengan saya dari wong Jowo. Alasannya simple aja biar gampang nyambung karena background budaya, makanan dan lain-lain. Tetapi kembali pada kehendak Tuhan dengan kehendak kita berbeda. Tuhan sudah menyiapkan pasangan yang terbaik untuk kita. Bukan orang Jawa seperti mauku tetapi gadis Bali asli. Hehehe
Sebelum menjadi istriku sekarang, istriku adalah teman kuliah di program ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Denpasar Bali, sama-sama di jurusan Akuntansi. Saya yang lulusan DIII STAN/Prodip Keuangan dan istri yang lulusan Poltek Negeri Bali sama-sama mengambil S1 di kampus ini. Namun saat itu kita punya pasangan masing-masing.. saya punya pacar keturunan Jawa dan istri punya pacar orang Bali. Hidup terus berjalan saya hidup dengan dunia saya dan istri saya juga hidup dengan dunianya. Tetapi setelah sekian lama pacaran dengan pacar sesama Jawa ini saya mulai goyah oleh karena kami berbeda keyakinan. Saya yang dari kecil dibesarkan secara Kristen dan pasangan saya dibesarkan dengan keyakinan orang tua yaitu Islam. Sempat putus nyambung kayak lagunya group vocal milik Rafi Ahmad BBB,akhirnya putus beneran karena menyadari perbedaan keyakinan sulit untuk dipersatukan. Dalam masa Jomblo ini saya banyak dijodohin atau dikenalkan, ada anak anggota sektor dimana saya jadi Ketua sektor di Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat Kristus Kasih Denpasar, kemudian sahabat saya di Bima mengenalkan adiknya. Yah begitulah nasib wong Jomblo, akan banyak ledekan dan tawaran. Hahahaha

Nubuatan Jodoh

Dalam masa perjomblohan itu saya berkenalan dengan seorang hamba Tuhan dari Kupang yang bernama Maxen Titus Ibrahim Lasbaun yang biasa dipanggil Om Max. Beliau merupakan pemimpin dan pendiri Persekutuan Doa di Tegal Denpasar. Biasa melakukan persekutuan doa tiap hari Jumat. Kebetulan Br Tegal ini termasuk daerah sektor dimana saya sebagai Ketuanya.
Kami banyak melakukan sharing dan pelayanan bersama dengan Om Max dan teman-teman persekutuan doa. Dalam suatu kesempatan Om Max berbicara tentang jodoh terutama jodoh untuk saya. Dalam nubuatan Tuhan melalui Hamba Tuhan Om Max jodoh saya adalah cewek cantik berambut dibawah bahu panjangnya orangnya kecil-kecil, ada tahi lalat di dahinya. Kemudian saya tanya orangnya Muslim ya Om? Saya berharap pacar saya yang muslim itu mau ikut kepercayaan saya..(masih berharap begitu). “Oh ndak orangnya pakai kalung salib. Wah siapakan dia calonku….
Dalam masa penantian jodohku saya tetap aktif menjadi Ketua Sektor di Pemecutan dan ikut pelayanan di Persekutuan Doa di Tegal, demikian biasa saya menyebut karena lokasinya di Tegal dekat kelurahan Tegal Kota Denpasar. Saya juga aktif di Persekutuan Doa di GKPB Kristus Kasih sebagai anggota yang kemudian sempat dipilih menjadi ketua.
Penantian jodoh saya mulai mendekat ketika menginjak tahun 2003..diusia saya menginjak 30 tahun, padahal saya berharap menikah diusia 27 tahun. Tetapi kembali bahwa rencanaku bukan Rencana-Mu. Calon istri saya yang sedang bergumul dengan kepercayaan yang lama dan mulai belajar mengenal Yesus melalui internet dan kemudian memberanikan diri untuk ibadah di gereja dimana saya saya juga menjadi anggota gereja tersebut. Salah seorang Pendeta yang melayani Pendeta Putu Widiarsana, S.Th. Ketika melayani katekisasi persiapan orang mau dibaptis ini Pendeta minta tolong untuk dibantu doa ada seorang cewek yang mau dibawa ke dukun. Begitu Pendeta Putu meminta saya. Kemudian saya minta nama cewek yang mau saya doakan..namanya Sri begitu Pendeta Putu menyebut. Dan saya menyanggupi untuk mendoakan pergumulan gadis itu.
Singkat cerita kami dipertemukan kembali oleh Pendeta Putu Widiarsana,S.Th, karena sudah saling mengenal di bangku kuliah, jadi pertemuan itu hanya reminder saja. Oh ternyata ini toh Sri itu. Habis pertemuan itu saya harus ke Jogja untuk diklat Manajemen Terapan di Universitas Gajah Mada (UGM) dan istri melanjutkan katekisasi dan dilanjutkan baptis dewasa sekaligus sidi.
Karena saya berkeyakinan iman bahwa jodoh yang Tuhan beri adalah Ni Luh Ketut Sri Agustini maka setelah pulang dari Jogja kami sepakat untuk mengikuti Katekisasi Pra Nikah di GKPB Jemaat Kristus Kasih Denpasar. Selanjutnya kami menikah pada tanggal 06 Desember 2013 dihadapan Jemaat GKPB Kristus Kasih Denpasar dan di hadapan Allah yang kami imani.
Demikian kesaksian saya semoga dapat berguna bagi pembaca yang budiman….Kalau ada yang sekarang sedang bergumul masalah jodoh semoga segera dipertemukan jodohnya. Tuhan Yesus Memberkati. Shalom….


 “Tulang Rusuk” – Kesaksian Amin Imanuel Bureni

Perkenalkan namaku Amin Imanuel Bureni, 34 tahun, sudah berkeluarga dengan seorang isteri dan seorang putera, saat ini sedang menantikan kelahiran anak kedua. Aku berasal dari lingkup keluarga sederhana di Kota Kupang – NTT. Masa kecil hingga selesai Perguruan Tinggi lebih banyak kuhabiskan di Kota Kupang, boleh dibilang segudang prestasi telah berhasil kuraih, Continue reading


 

 

 Seorang anak manja berjodoh dengan seorang pendoa

(kesaksian Winning Siburian)

Kristen dari kecil

Aku lahir dari keluarga Kristen yang taat, nama lengkapku Winning Rosa Melati Siburian, cukup dipanggil Winning, aku anak bungsu dari 3 bersaudara, kakakku semuanya laki-laki. Kami di didik di keluarga yang taat, dari kecil sangat taat bergereja, ibadah, doa, puji-pujian, dan sampai di Perguruan tinggi pun aku selalu aktif dalam  kegiatan kerohanian, aku Continue reading


 Saat Tuhan memberikan hadiah (Jodoh, Jabatan, dan Anak)

Kelanjutan Kesaksian saya, Ni Luh Ketut Sri Agustini

Pada kesempatan ini saya ingin bersaksi kembalitentang besarnya kasih Tuhan yang saya rasakan, bagi yang sudah membaca kesaksian saya sebelumnya, masih ingat perjuang saya untuk dapat menjadi pengikut Tuhan, (saat saya pindah kepercayaan) banyak rintangan, tantangan dan ujian, namun kalau kita Continue reading


Kesaksian I Putu Raka

Kami mengenal Tuhan Yesus melalui mujizat kesembuhan

Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri , nama saya I Putu Raka, anak pertama dari 3 bersaudara, yang mana saya anak laki satu-satunya. Kalo di Tempat kami anak laki-laki sangat di harapkan sebagai penerus keluarga dan penerus adat istiadat. Pertama kali kami mengenal Tuhan Yesus karena mujizat kesembuhan yang Tuhan berikan kepada kami. Ini berawal saat istri saya mengalami sakit, setelah putra pertama kali lahir, keadaan istri mulai sakit-sakitan, setelah kami bawa ke dokter, dokter menvonis kalau istri saya mengalami sakit paru-paru, kami pun rutin melakukan pemeriksaan ke dokter, namun tidak memberikan kesembuhan bahkan tidak ada kemajuan sama sekali, dan kami pun memutuskan pergi ke dukun, untuk mendapatkan kesembuhan, namun kami tidak mendapatkannya. Akhirnya istri saya memutuskan untuk tinggal sementara di tengah-tengah keluarganya di Singaraja, untuk melanjutkan berobat ke dukun, sementara anak kami sementara diurus oleh orang tua saya. Dan saya sendiri masih di Denpasar karena bekerja. Di tempat kerja saya bertemu dengan teman sekerja saya, Bapak I Ketut Sudiarta (kami sering panggil pak Ketut Maret). Pak Ketut Maret bertanya,”Kenapa setiap hari Sabtu kamu ke Singaraja, ada apa disana?” Continue reading


Kesaksian Ketut Sudiarta (Ketut Maret)

“Saat kami sekeluarga menerima Tuhan Yesus”

ketut-maretKetut Maret, begitulah saya dipanggil, mungkin karena saya lahir di Bulan Maret, pada kesempatan ini Saya ingin bersaksi bagamaina kehidupan saya sekeluarga, sebelum dan sesudah mengenal Tuhan Yesus.

Saya adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara, dimana semua keluarga sudah menikah dan memiliki kehidupan masing-masing. Begitu pula saya, saya sudah berkeluarga memiliki seorang istri dan seorang putra. Sebelum mengenal Tuhan Yesus, kehidupan kami sangat terpuruk, seperti tidak berpengharapan. Berawal dari keterpurukan ini lah saya sering sekali merenungi kehidupan ini, saya sering bertanya pada dalam diri sendiri mengapa kehidupan kami terus seperti ini, apa yang kurang?? Kami sudah rajin berdoa, mebanten (mengaturkan sesaji), menyembah ke sana-ke mari, sampai kadang kami tidak makan, hanya untuk membeli bahan-bahan untuk persembahyangan, (bunga, kembang/canang) kami selalu mengutamakan persembahan/mebanten dari pada kehidupan makan minum kami, tapi mengapa tidak ada jawaban atas doa-doa kami. Sampai saya sering bertanya, apakah memang ada Tuhan,… apa Tuhan itu benar-benar ada???. Continue reading


Kesaksian Ni Luh Ketut Sri Agustini
Katagori : Kesaksian-Pertobatan
(untuk kalangan sendiri)

“Saat Saya Menerima Tuhan Yesus Secara Pribadi”

Sri Agustini
Nama Lengkap saya, Ni Luh Ketut Sri Agustini, cukup dipanggil Sri, saya anak bungsu dari 3 bersaudara,(semua perempuan) saya dilahirkan di Denpasar Bali dan dibesarkan dilingkungan keluarga dengan adat-istiadat kental bernuasa Bali. Sungguh luar biasa saat Tuhan menjamah hati dan kehidupan saya, ini berawal saat saya mulai bekerja di salah satu perusahaan swasta, yang bergerak di bidang jasa jual-beli saham (pasar modal). Di mana ada beberapa teman saya beragama Kristen, dan sebagai umat Hindu saya sangat rajin mebanten (menghaturkan sesaji) dikantor, disetiap sudut ruangan dan di depan komputer.
Saat teman saya yang beragama Kristen menanyakan manfaat menghaturkan sesaji, saya menjawabnya sesuai yang saya tahu, sebagai ucapan syukur, dan terimakasih kita kepada Tuhan atas ciptaannya yang melimpah. Continue reading


Nama : Maxen Titus Ibrahim Lasbaun
Pangilan : Om Max
Lahir : Kupang, 14 Mei 1968
Pekerjaan : Hamba Tuhan & punya Wr. Makan. Sei masakan khas Kupang

Kesaksian ini diceritan langsung oleh om Max dan ditulis oleh team dari www.berdoadanbekerja.com

MaxOm Max begitu kami memanggilnya, lahir di Kupang, 14 Mei 1968. Anak ke-5 dari 8 bersaudara. Merupakan anak yang paling aktif dalam keluarga, Anak yang takut akan Tuhan. Dididik oleh keluarga yang Takut Tuhan, Bapaknya juga adalah seorang hamba Tuhan (seorang pendoa). Namun saat berusia 3 tahun Ayah tercinta telah tiada. Meninggalkan istri dan 8 orang anak. Hanya seorang Ibu yang membesarkan mereka dengan kerja keras untuk menghidupi 8 bersaudara ini. Karena kehidupan yang sulit dan melarat Om Max tumbuh menjadi anak yang rajin, bekerja keras, tekun dan ulet.
Disaat keluarga dalam kesusahan, dialah yang berdoa, memohon kasih Tuhan. Sejak umur 4 tahun, Om Max sudah berpindah-pindah tempat tinggal, tinggal bersama paman, om, tante, teman, dan orang lain, hanya untuk bekerja, sekedar untuk mendapat makan, minum dan memenuhi kebutuhan keluarga. Pernah juga bergaul dengan seorang pendeta yang bernama Besi. Karena seringnya mengikuti/tinggal dengan orang lain, banyak hal yang ia pelajari, tinggal bersama dengan tukang masak, dia jadi tahu cara memasak, tinggal dengan orang yang pintar buat kue, dia jadi tahu cara membuat kue, tahu tentang Sei, tahu bagaimana berladang, berjualan , tukang bangunan dll.
Dari kecil om Max sudah sering berdoa, sampai saat kelas 3 SD dia mengusulkan untuk diadakan kebaktian singkat (Firman,pujian, Doa) sebelum memulai pelajaran. Ide ini juga didukung oleh guru-guru dan temannya, Bahkan sampai sekarang tradisi itu masih ada di SD Batu Plat. Continue reading